Oleh: Rody Dermawan | 8 November 2015

Cara membuka dan menutup mata batin (indra ke-6)

Sumber: Cara membuka dan menutup mata batin (indra ke-6)

Oleh: Rody Dermawan | 30 Mei 2013

Tirai pembatas zaman

Ketika zaman sudah tidak lagi memiliki batas…

semua bisa ditembus……

Daftar, Klik sini dan buktikan sendiri…..!!!

UBAH HP ANDA MENJADI SUMBER PENGHASILAN TANPA BATAS!! Hanya dengan investasi Rp 69.000 sekali seumur hidup! BONUSPULSA adalah Perusahaan Dealer Voucher Pulsa Elektrik yang berbadan hukum berskala menengah dan besar (PT – bukan CV atau bentuk tidak jelas lainnya) dengan REKENING BANK PERUSAHAAN. Kami menawarkan penghasilan tambonuspulsabahan dan utama bagi SEMUA ORANG dengan menawarkan sistem voucher elektrik untuk semua operator seperti: Mentari, Indosat M3, Simpati, As, XL Bebas & Jempol, Telkom Flexi, Fren, Esia, StarOne, Three dalam 1 chip dengan harga yang MURAH (baca KESAKSIAN) TANPA TARGET PENJUALAN MINIMUM dan TANPA RESIKO DEPOSIT PULSA HANGUS. Bisa digunakan untuk mengisi pulsa handphone anda sendiri, keluarga, teman, dan orang di sekitar Anda. Hanya dengan mendaftarkan satu nomer GSM/CDMA saja, baik pasca maupun prabayar, anda sudah dapat melakukan pengisian pulsa untuk ke semua nomer GSM/CDMA. Hanya sekali pendaftaran, MASA KEANGGOTAAN SEUMUR HIDUP, BAHKAN INCOME PASIF BISA DIWARISKAN KE ANAK CUCU!! Tidak ada tutup poin atau persyaratan paksaan lainnya. Potensi bonus ratusan juta rupiah ditambah dengan bonus melimpah berupa Handphone, Liburan, Uang Tunai dan MOBIL. Mengapa bergabung ? * Harga relatif lebih murah. * Komisi transaksi sampai Rp.20-40/transaksi. * Komisi pendaftaran dari Rp.2.000 – Rp.10.000. * Support web reporting untuk memonitor transaksi group anda. * Bisa transaksi isi ulang pulsa via chat YM dgn cepat dan gratis. * Mendapatkan Web Replika untuk promosi: http://www.bonuspulsa.com/id_anda. * Biaya registrasi untuk menjadi mitra BonusPulsa murah dan terjangkau. * Hanya dengan 1 Simcard GSM/CDMA maupun pra dan pasca bayar!. * Dukungan penuh costumer service via chat maupun email. * Transaksi isi ulang 24 jam non-stop. * Bebas fee deposit dan deposit tidak akan hangus. * Penerapan 1 harga voucher untuk semua mitra. * Produk pulsa elektronik yang lengkap * Dapat transfer deposit, pencairan komisi dlm bentuk tunai ke rekening bank anda. * Tidak ada target penjualan / tutup point. * Pendaftaran mitra baru dapat dilakukan oleh setiap mitra. * Limpahan mitra dari pendaftar via website tanpa link sponsor (random & spill). * Biaya SMS Transaksi Rp 9 , SMS lainnya Rp 15 !

Daftar, Klik sini dan buktikan sendiri…..!!!

Oleh: Rody Dermawan | 22 Februari 2009

Rodydermawan’s Weblog › Perkakas — WordPress

klik linkdi bawah, untuk bergabung di tickerbar, memberdayakan komputer dan koneksii internet anda, cari duit sambil browsing! ngga perlu repot masang iklan di sana dan disini, tinggal nstall program kecil, dan biarkan bekerja dengan sendirinya, uang anda akan mengalir terus selama koneksi internet anda tersambung, dan silahkan menikmati.

bergabung di tickerbar

bergabung di tickerbar

bergabung di tickerbar

bergabung di tickerbar

Oleh: Rody Dermawan | 22 Agustus 2008

epson

p

Oleh: Rody Dermawan | 6 Juni 2008

Hijrah dan Konstruksi Masyarakat Madani

Ditulis oleh didijunaedihz di/pada Januari 11, 2008

camel.jpg

Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat sebuah peristiwa besar (the great history) yang merupakan tonggak baru dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw mengembangkan misi dakwahnya menyebarkan risalah ilahiyah, yaitu peristiwa Hijrah.

Hijrah lazim dimaknai sebagai peristiwa perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah ke Yatsrib (Madinah) untuk meneruskan perjuangan menegakkan dinul Islam, menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang beradab (civilized), dinamis, progresif dan toleran di bawah naungan wahyu Ilahi, serta membebaskan masyarakat dari belenggu kezaliman, penindasan, dan kejahiliyahan. Karena itulah, Umar bin Khaththab menetapkan peristiwa hijrah ini sebagai permulaan tahun dalam kalender Islam, yang saat ini telah memasuki tahun ke 1428 Hijriah.

Peristiwa hijrah dapat disebut sebagai babak baru peradaban Islam. Setelah sebelumnya, selama lebih kurang tiga belas tahun menjalankan misi dakwah di Mekah, tanah kelahirannya, tidak membuahkan hasil yang signifikan, maka atas perintah dan ijin Allah Swt, Nabi Muhammad kemudian menyusun strategi baru dalam dakwahnya, yakni dengan melakukan hijrah (migrasi), memindahkan basis kegiatan dakwahnya ke suatu daerah yang dianggap masih netral dari dominasi kelompok tertentu. Daerah tersebut bernama Yatsrib, yang kemudian diubah menjadi Madinah, yang berarti kota, atau dalam arti etimologi mengandung makna tempat peradaban. Di tempat baru yang bernama Madinah itulah, selama sepuluh tahun berdakwah, sejarah mencatat kesuksesan yang luar biasa ditorehkan oleh sosok yang disebut oleh Michael H. Hart, sebagai tokoh paling berpengaruh di antara 100 tokoh di dunia. Dialah Nabi Muhammad saw. Di Madinah pula, Nabi Muhammad berhasil menciptakan sebuah blue print masyarakat madani (berperadaban), sebuah prototype masyarakat ideal.

Masyarakat Madani

Kata madani berarti civil atau civilized (beradab). Madani berarti juga peradaban. Konsep madani bagi orang Arab memang mengacu pada hal-hal yang ideal dalam kehidupan.

Wacana seputar konsep masyarakat madani, pada hakekatnya merupakan reinterpretasi intelektual muslim terhadap sebuah tatanan masyarakat yang pernah dibentuk oleh Nabi Muhammad ketika berada di Madinah. Konsep masyarakat madani yang berkembang dewasa ini merupakan sebuah bentuk dialektika antara ajaran Islam dengan modernitas. Proses dialektika tersebut adalah suatu yang niscaya. Ketika Barat melahirkan konsep civil society pada abad ke-18, yang dipelopori oleh John Locke atau Montesquieu, maka ilmuwan muslim menginterpretasikan civil society dengan istilah masyarakat madani, yaitu sebuah komunitas masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad ketika berada di Madinah.

Jika ditelisik secara historis, masyarakat madani pada masa Nabi Muhammad adalah sebuah komunitas masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; persaudaraan universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (social justice), di bawah naungan wahyu Tuhan.

Dalam konsepsi Islam, persaudaraan universal dan kesetaraan adalah nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. 49: 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami mencipatkan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antarta kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat ini secara tegas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan seruan akan pentingnya kebersamaan yang didasari oleh kesalehan. Kesalehan yang dimaksud adalah perpaduan antara kesalehan ritual dan sosial.

Model masyarakat Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad adalah prototype masyarakat ideal produk Islam. Konstruksi masyarakat madani yang dibangun oleh Nabi Muhammad mencerminkan betapa beliau mampu mempertemukan beragam perbedaan; sosial, budaya, bahkan agama, di tengah heterogenitas masyarakat ketika itu. Beliau mampu menyusun sebuah harmoni yang indah di tengah pluralitas, mengikis segala bentuk egoisme, arogansi dan kesewenang-wenangan. Beliau berhasil memberikan pencerahan, mengubah tatanan kehidupan masyarakat menjadi lebih agamis, santun dan beradab. Di sinilah, ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh umat manusia) menemukan relevansinya.

Dengan demikian, hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad merupakan sebuah loncatan besar dalam sejarah peradaban Islam, yang pada gilirannya tidak hanya sekedar membebaskan masyarakat muslim dari kejahiliyahan, ketertindasan dan kesewenang-wenangan kafir Mekah, tetapi lebih jauh, mampu menciptakan sebuah konstruksi masyarakat madani, masyarakat berperadaban yang religius, egaliter dan toleran.

Oleh: Rody Dermawan | 6 Juni 2008

Menuju Masyarakat Madani

oleh: Nurcholish Madjid

Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk ikut serta ambil peran dalam usaha bersama bangsa kita untuk mewujudkan masyrakat berperadaban, masyarakat madani, civil society, dinegara kita tercinta, Republik Indonesia. Karena terbentuknya masyarakat madani adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Adalah Nabi Muhammad Rasulullah sendiri yang memberi teladan kepada umat manusia ke arah pembentukan masyarakat peradaban. Setelah belasan tahun berjuang di kota Mekkah tanpa hasil yang terlalu menggembirakan, Allah memberikan petunjuk untuk hijrak ke Yastrib, kota wahah atau oase yang subur sekitar 400 km sebelah utara Mekkah. Sesampai di Yastrib, setelah perjalanan berhari-hari yang amat melelahkan dan penuh kerahasiaan, Nabi disambut oleh penduduk kota itu, dan para gadisnya menyanyikan lagu Thala’a al-badru ‘alaina (Bulan Purnama telah menyingsing di atas kita), untaian syair dan lagu yang kelak menjadi amat terkenal di seluruh dunia. Kemudian setelah mapan dalam kota hijrah itu, Nabi mengubah nama Yastrib menjadi al-Madinat al-nabiy (kota nabi).

Secara konvensional, perkataan “madinah” memang diartikan sebagai “kota”. Tetapi secara ilmu kebahasaan, perkataan itu mengandung makna “peradaban”. Dalam bahasa Arab, “peradaban” memang dinyatakan dalam kata-kata “madaniyah” atau “tamaddun”, selain dalam kata-kata “hadharah”. Karena itu tindakan Nabi mengubah nama Yastrib menjadi Madinah, pada hakikatnya adalah sebuah pernyataan niat, atau proklamasi, bahwa beliau bersama para pendukungnya yang terdiri dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar hendak mendirikan dan membangun mansyarakat beradab.

Tak lama setelah menetap di Madinah itulah, Nabi bersama semua penduduk Madinah secara konkret meletakkan dasar-dasar masyarakat madani, dengan menggariskan ketentuan hidup bersama dalam suatu dokumen yang dikenal sebagai piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah). Dalam dokumen itulah umat manusia untuk pertama kalinya diperkenalkan, antara lain, kepada wawasan kebebasan, terutama di bidang agama dan politik, khususnya pertahanan, secara bersama-sama. Dan di Madinah itu pula, sebagai pembelaan terhadap masyarakat madani, Nabi dan kaum beriman diizinkan mengangkat senjata, perang membela diri dan menghadapi musuh-musuh peradaban.

Jika kita telaah secara mendalam firman Allah yang merupakan deklarasi izin perang kepada Nabi dan kaum beriman itu, kita akan dapat menangkap apa sebenarnya inti tatanan sosial yang ditegakkan Nabi atas petunjuk Tuhan.

***

Diizinkan berperang bagi orang-prang yang diperangi, karena mereka sesungguhnya telah dianiaya, dan sesungguhnya Allah amat berkuasa untuk menolong mereka.

Yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman mereka secara tidak benar, hanya karena mereka berkata: “Tuhan kami ialah Allah”. Dan kalaulah Allah tidak menolak (mengimbangi) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya runtuhlah gereja-gereja, sinagog-sinagog, dann masjid-masjid yang disitu banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah akan menolong siapa saja yang menolong-NYA (membela kebenaran dan keadilan).

Yaitu mereka, yang jika kami berikan kedudukan di bumu, menegakkan sembahyang serta menunaikan zakat, dan mereke a menuruh berbuat kebaikan serta melarang berbuat kejahatan, dan mereka mennyuruh berbuat kebaikan serta melarang berbuat kejahatan. Dan bagi Allah jualah segala kesudahan semua perkara. (Q.S. Al-Hajj-39-41).

***

Dari firman deklarasi izin perang kepada nabi dan kaum beriman itu, bahwa perang dalam masyarakat madani dilakukan karena keperluan harus mempertahankan diri, melawan dan mengalahkan kezaliman. Perang itu juga dibenarkan dalam rangka membela agama dan sistem keyakinan, yang intinya ialah kebebasan menjalankan ibadat kepada Tuhan. Lebih jauh, perang yang diizinkan Tuhan itu adalah untuk melindungi lembaga-lembaga keagamaan seperti biara, gereja, sinagog, dan mesjid (yang dalam lingkungan Asia dapat ditambah dengan kuil, candi, kelenteng, dan seterusnya) dari kehancuran.

Perang sebagai suatu keterpaksaan yang diizinkan Allah itu merupakan bagian dari mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang diciptakan Allah untuk menjaga kelestarian hidup manusia. Seperti dunia sekarang ini yang selamat dari “kiamat nuklir” karena perimbangan kekuatan nuklir antara negara-negara besar, khususnya Amerika dan Rusia (yang kemudian masing-masing tidak berani menggunakan senjata nuklirnya—yang disebut “kemacetan nuklir”), masyarakat pun berjalan mulus dan terhindar dari bencana jika di dalamnya terdapat mekanisme pengawasan dan pengimbangan secara mantap dan terbuka (renungkan QS Al-Baqarah:152). Dengan memahami prinsip-prinsip itu, kita juga akan dapat memahami masyarakat madani yang dibangun nabi di Madinah.

Membangun masyarakat peradaban itulah yang dilakukan Nabi selama sepuluh tahun di Madinah. Beliau membangun masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis, dengan landasan takwa kepada Allah dan taat kepada ajaran-NYA. Taqwa kepada Allah dalam arti semangat ketuhanan Yang Maha Esa, yang dalam peristilahan Kitab Suci juga disebut semangat Rabbaniyah (QS Alu Imran:79) atau ribbiyah (QS Alu Imran:146). Inilah hablun mim Allah, tali hubungan dengan Allah, dimensi vertikal hidup manusia, salah satu jaminan untuk manusia agar tidak jatuh hina dan nista.

Semangat Rabbaniyah atau ribbiyah itu, jika cukup tulus dan sejati, akan memancar dalam semangat perikemanusiaan, yaitu semangat insaniyah, atau basyariyah, dimensi horisontal hidup manusia, hablun min al-nas. Kemudian pada urutannya, semangat perikemanusiian itu sendiri memancar dalam berbagai bentuk hubungan pergaulan manusia yang penuh budi luhur. Maka tak heran jika Nabi dalam sebuah hadisnya menegaskan bahwa inti sari tugas suci beliau adalah untuk “menyempurnakan berbagai keluhuran budi”.

Masyarakat berbudi luhur atau berakhlak mulia itulah, masyarakat berperadaban, masyarakat madani, “civil society”. Masyarakat Madani yang dibangun nabi itu, oleh Robert N. Bellah, seorang sosiologi agama terkemuka disebut sebagai masyarakat yang untuk zaman dan tempatnya sangat modern, bahkan terlalu modern, sehingga setelah nabi sendiri wafat tidak bertahan lama. Timur tengah dan umat manusia saat itu belum siap dengan prasarana sosial yang diperlukan untuk menopang suatu tatanan sosial yang modern seperti dirintis Nabi (RN Bellah Ed. Beyond Belief {New York : Harper & Row, edisi paperback, 1976} hh. 150-151).

Setelah Nabi wafat, masyarakat madani warisan Nabi itu, yang antara lain bercirikan egaliterisme, penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan prestise seperti keturunan, kesukuan, ras, dan lain-lain), keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan penentuan kepemimpinan melalui pemilihan, bukan berdasarkan keturunan, hanya berlangsung selama tiga puluh tahunan masa khulafur rasyidin. Sesudah itu, sistem sosial madani dengan sistem yang lebih banyak diilhami oleh semangat kesukuan atau tribalisme Arab pra-Islam, yang kemudian dikukuhkan dengan sistem dinasti keturunan atau geneologis itu sebagai “Hirqaliyah” atau “Hirakliusisme”, mengacu kepada kaisar Heraklius, penguasa Yunani saat itu, seorang tokoh sistem dinasti geneologis.

Begitu keadaan dunia Islam, terus-menerus hanya mengenal sistem dinasti geneologis, sampai datangnya zaman modern sekarang. Sebagian negara muslim menerapkan konsep negara republik, dengan presiden dan pimpinan lainnya yang dipilih. Karena itu, justru dalam zaman modern inilah, prasarana sosial dan kultural masyarakat madani yang dahulu tidak ada pada bangsa manaoun di dunia, termasuk bangsa Arab, mungkin akan terwujud. Maka kesempatan membangun masyarakat madani menuurut teladan nabi, justru mungkin lebih besar pada masa sekarang ini.

Berpangkal dari pandangan hidup bersemangat ketuhanan dengan konsekuensi tindakan kebaikan kepada sesama manusia (QS Fushshilat:33), masyarakat madani tegak berdiri di atas landasan keadilan, yang antara lain bersendikan keteguhan berpegang kepada hukum. Menegakkan hukum adalah amanat Tuhan Yang Maha Esa, yang diperintahkan untuk dilaksanakan kepada yang berhak (QS Al-Nisa:58). Dan Nabi telah memberi telaadan kepada kita. Secara amat setia beliau laksanakan perintah Tuhan itu. Apalagi Al-Qur’an juga menegaskan bahwa tugas suci semua Nabi ialah menegakkan keadilan di antara manusia (QS Yunus:47).

Juga ditegakkan bahwa para rasul yang dikirim Allah ke tengah umat manusia dibekali dengan kitab suci dan ajaran keadilan, agar manusia tegak dengan keadilan itu (QS al-Hadid:25). Keadilan harus ditegakkan, tanpa memandang siapa yang akan terkena akibatnya. Keadilan juga harus ditegakkan, meskipun mengenai diri sendiri, kedua orang tua, atau sanak keluarga (QS A-‘Nisa:135). Bahkan terhadap orang yang membenci kita pun, kita harus tetap berlaku adil, meskipun sepintas lalu keadilan itu akan merugikan kita sendiri (QS Al-Ma’idah:8).

Atas pertimbangan ajaran itulah, dan dalam rangka menegakkan masyarakat madani, Nabi tidak pernah membedakan anatara “orang atas”, “orang bawah”, ataupun keluaarga sendiri. Beliau pernah menegaskan bahwa hancurnya bangsa-bangsa di masa lalu adalah karena jika “orang atas” melakukan kejahatan dibiarkan, tetapi jika “orang bawah” melakukannya pasti dihukum. Karena itu Nabi juga menegaskan, seandainya Fatimah pun, puteri kesayangan beliau, melakukan kejahatan, maka beliau akan menghukumnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Masyarakat berperadaban tak akan terwujud jika hukum tidak ditegakkan dengan adil, yang dimulai dengan ketulusan komitmen pribadi. Masyarakat berperadaban memerlukan adanya pribadi-pribadi yang dengan tulus mengikatkan jiwanya kepasda wawasan keadilan. Ketulusan ikatan jiwa itu terwujud hanya jika orang bersangkutan ber-iman, percaya dan mempercayai, dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan, dalam suatu keimanan etis, artinya keimanan bahwa Tuhan menghendaki kebaikan dan menuntut tindakan kebaikan manusia kepada sesamanya. Dan tindakan kebaikan kepada sesama manusia harus didahului dengan diri sendiri menempuh hidup kebaikan, seperti dipesankan Allah kepada para Rasul (QS Al-Mu’minun:51), agar mereka “makan dari yang baik-baik dan berbuat kebajikan.”

Ketulusan ikatan jiwa, juga memerlukan sikap yang yakin kepada adanya tujuan hidup yang lebih tinggi daripada pengalaman hidup sehari-hari di dunia ini. Ketulusan ikatan jiwa perlu kepada keyakinan bahwa makna dan hakikat hidup manusia pasti akan menjadi kenyataan dalam kehidupan abadi, kehidupan setelah mati, dalam pengalaman bahagia atau sengsara. Karena itu, ketulusan ikatan jiwa kepada keadilan mengharuskan orang memandang hidup jauh di depan, tidak menjadi tawanan keadaan di waktu sekarang dan di tempat ini (dunia) (QS Al-‘Araf:169).

Tetapi, tegaknya hukum dan keadilan tak hanya perlu kepada komitmen-komeitmen pribadi. Komitmen pribadi yang menyatakan diri dalam bentuk “itikad baik”, memang mutlak diperlukan sebagai pijakan moral dan etika dalam masyarakat. Sebab, bukankah masyarakat adalah jumlah keseluruhan pribadi para anggotanya? Apalagi tentang para pemimpin masyarakat atau public figure, maka kebaikan itikad itu lebih-lebih lagi dituntut, dengan menelusuri masa lalu sang calon pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun mungkin keluarganya. Karena itu, di banyak negara, seorang calon pemimpin formal harus mempunyai catatan perjalanan hidup yang baik melalui pengujian, bukan oleh perorangan atau kelembagaan, tetapi oleh masyarakat luas, dalam suasana kebebasan yang menjamin kejujuran.

Namun sesungguhnya, seperti halnya dengan keimanan yang bersifat amat pribadi, itikad baik bukanlah suatu perkara yang dapat diawasi dari diri luar orang bersangkutan. IA dapat bersifat sangat subjektif, dibuktikan oleh hampir mustahilnya ada orang yang tidak mengaku beritikad baik. Kecuali dapat diterka melalui gejala lahir belaka, suatu itikad baik tak dapat dibuktikan, karena menjadi bagian dari bunyi hati sanubari orang bersangkutan yang paling rahasia dan mendalam.

Oleh sebab itu, iitikad pribadi saj atidak cukup untuk mewujudkan masyarakat berperadaban. Itikad baik yang merupakan buah keimanan itu harus diterjemahkan menjadi tindakan kebaikan yang nyata dalam masyarakat, berupa “amal saleh”, yang secara takrif adalah tindakan membawa kebaikan untuk sesama manusia. Tindakan kebaikan bukanlah untuk kepentingan Tuhan, sebab Tuhan adalah Maha Kaya, tidak perlu kepada apapun dari manusia. Siapa pun yang melakukan kebaikan, maka dia sendirilah –melalui hidup kemasyarakatannya– yang akan memetik dan merasakan kebaikan dan kebahagiaan. Begitu pula sebaiknya, siapapun yang melakukan kejahatan, maka dia sendiri yang kan mewnanggung akibat kerugian dan kejahatannya. (QS Fushilat:46, Al-Jatsiyah:15).

Jika kita perhatikan apa yang terjadi dalam kenyataan sehari-hari, jelas sekali bahwa nilai-nilai kemasyarakatan yang terbaik sebagian besar dapat terwujud hanya dalam tatanan hidup kolektif yang memberi peluang kepada adanya pengawasan sosial. Tegaknya hukum dan keadilan, mutlak emmerlukan suatu bentuk interaksi sosial yang memberi peluang bagi adanya pengawasan itu. Pengawasan sosial adalah konsekuensi langsung dari itikad baik yang diwujudkan dalam ttindakan kebaikan.

Selanjutnya, pengawasan sosial tidak mungkin terselenggara dalam suatu tatanan sosial yang tertutup. Amal soleh ataupun kegiatan “demi kebaikan”, dengan sendirinya berdimensi kemanusiaan, karena berlangsung dalam suatu kerangka hubungan sosial, dan menyangkut orang banyak. Suatu klaim berbuat baik untuk masyarakat, apalagi jika pebuatan atau tindakan itudilakukan melaluipenggunaan kekuasaan, tidak dapat dibiarkan berlangsung denan mengabaikan masyarakat, apalagi jika perbuatan atau tindakan dilakukan melalui penggunaan kekuasaan. tidak dapat dibiarkan berlangsung dengan mengabaikan masyarakat itu sendiri dengan berbagai pandangan, penilaian dan pendapat yang ada.

Dengan demikian, masyarakat madani akan terwujud hanya jika terdapat cukup semangat keterbukaan dalam masyrakat. Keterbukaan adalah konsekuensi dari kemanusiaan, suatu pandangan yang melihat sesama manusia secara optimis dan positif. Yaitu pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik (QS Al-‘araf: 172, Al-Rum:30), sebelum terbukti sebaliknya. Kejahatan pribadi manusia bukanlah sesuatu hal yang alami berasal dari dalam kediriannya. Kejahatan terjadi sebagai akibat pengaruh dari luar, dari pola budaya yang salah, yang diteruskan terutama oelh seorang tua kepada anaknya. Karena itu, seperti ditegaskan dalam sebuah hadist Nabi, setiap anak dilahirkan dlam kesucian asal, namun orangtuanyalah yang membuatnya menyimpang dari kesucian asal itu.

Ajaran kemanusiaan yang suci itu membawa konsekuensi bahwa kita harus melihat sesama manusia secara optimis dan positif, sdengan menerapkan prasangka baik (husn al-zhan), bukan prasangka buruk (su’ al-zhan), kecuali untuk keperluan kewaspadaan seeprlunya dalam keadaan tertentu. Tali persaudaraan sesama manusia akan terbina antara lain jika dalam masyarakat tidak terlalu banyak prasangka buruk akibat pandangan yang pesimis dan negatif kepada manusia (QS al-Hujurat:12).

Berdasarkan pandangan kemanusiaan yang optimis-positif itu, kita harus memandang bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk benar dan baik. Karena itu, setiap orang mempunyai potensi untuk menaytakan pendapat dan untuk didengar. Dari pihak yang mndengar, kesediaan untuk mendengar itu sendiri memerlukan dasar moral yang amat penting, yaitu sikap rendah hati, berupa kesiapan mental untuk menyadari dan mengakui diri sendiri selalu berpotensi untuk membuat kekeliruan. Kekeliruan atau kekhilafan terjadi karena manusia adalah makhluk lemah (QS Al-Nisa’: 28). Keterbukaan adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar, kemudian kesediaan mendengar pendapat orang lain untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik. Keterbukaaan serupa itu dalam kitab suci disebutkan sebagai tanda adanya hidayah dari Allah, dan membuat yang bersangkutan tergolong orang-orang yang berpikiran mendalam (ulu’ al-bab), yang sangat beruntung (QS al-Zumar:17-18).

Musyawarah pada hakikatnya tak lain adalah interaksi positif berbagai individu dalam masyarakat yang saling memberi hak untuk menyatakan pendapat, dan saling mengakui adanya kewajiban mendengar pendapat itu. Dalam bahasa lain, musyawarah ialah hubungan interaktif untuk saling mewngingatkan tentang kebenaran dan kebaikan serta ketabahan dalam mencari penyelesaian masalah bersama, dalam suasana persamaan hak dan kewajiban antara warga masyarakat (QS al-‘Ashar).

Itulah masyarakat demokratis, yang berpangkal dari keteguhan wawasan etis dan moral berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Masyarakat demokratis tidak mungkin tanpa masyarakat berperadaban, masyarakat madani. Berada di lubuk paling dalam dari masyarakat madani adalah jiwa madaniyah, civility, yaitu keadaban itu sendiri. Yaitu sikap kejiwaaan pribadi dan sosial yang bersedia melihat diri sendiri tidak selamanya benar, dan tidak ada suatu jawaban yang selamanya benar atas suatu masalah. Dari keadaan lahir sikap yang tulus untuk menghargai sesama manusia, betappaun seorang individu atau suatu kelompok berbeda dengan diri sendiri dan kelompok sendiri. Karena itu, keadaban atau civility menuntut setiap orang dan kelompok masyarakat untuk menghindar dari kebiasaan merendahkan orang atau kelompok lain, sebab “Kalau-kalau mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka yang direndahkan” (QS al-Hujurat:11).

Tegaknya nilai-nilai hubungan sosial yang luhur, seperti toleransi dan pluralisme, adalah kelanjutan dari tegaknya nilai-nilai keadaban itu. Sebab toleransi dan pluralisme tak lain adalah wujud dari “ikatan keadaban” (bond of civility), daolam sarti, sebagaimana telah dikemukakan, bahwa masing-masing pribadi atau kelompok, dalam suatu lingkungan interaksi sosial yang lebih luas, memiliki kesediaan memandang yang lain dengan penghargaan, betappaun perbedaan yang ada, tanpa saling memaksakan kehendak, pendapat, atau pandangan sendiri.

Bangsa Indonesia memiliki semua perlengkapan yang diperlukan untuk nmenegakkan masyarakat madani. Dan kita semua sangat berpengharapan bahwa masyarakat madani akan segera tumbuh semakain kuat di amsa dekat ini. Kemajuan besar yang telah dicapai oleh Orde Baru dala m meningkatkan taraf hidup rakyat dan kecerdasan umum, adalah alasan utam akita untuk berpengaharapan itu. Kita wajib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berterima kasih kepada para pemimpin bangsa, bahwa keadaaan kita sekarang ini, hampir di segala bidang, jauh lebih baik, sangat jauh lebih baik, daripada dua-tiga dasawarsa yang lalu.

Tetapi, sejalan dengan suatu cara Nabi bersyukur kepada Allah, yaitu dengan memohon ampun kepada-Nya, kita pun bersyukur kepada-Nya dengan menyadari dan mengakui berbagai kekurangan kita. Dan kita semua tidak mau menjadi korban keberhasilan kita sendiri, misalnya karena kurang mampu melakukan antisipasi terhadap tuntutan masyarakat yang semakin berkecukupan dan berpendidikan. Terkiaskan denagn makna ungkapan “revolusi sering memakan anaknya sendirinya sendiri”, kita semua harus berusaha mencegah jangan sampai “keberhasilan memakan anaknya sendiri” pula.

saduran dari http://www.fortunecity.com/millennium/oldemill/498/civils/NMadjid.html

Oleh: Rody Dermawan | 6 Juni 2008

Menuju Masyarakat yang Madani

Madani

Istilah “Masyarakat Madani” dan Perkembangannya di Indonesia

Date: Sat, 14 Aug 1999 20:29:01 +0100
To: bahtera@egroups.com
Subject: [BT] Re: Mayarakat Madani
Apa sesungguhnya arti kata ‘madani’ dalam ungkapan ‘masyarakat madani?

Menyambung keterangan tepat dan lengkap dari Pak Bash:

Asosiasi pengertian “bersantun, berbudaya” dengan “kota” itu sangat tersebar luas.

Perancis bourgeois, Belanda burgerlijk, Jerman bürgerlich itu pun berasal pada kata burg yang berarti kota, perkotaan. Kata derivasi tersebut dalam ketiga bahasa ini sekaligus menunjuk kepada klas menengah (middle class) semua. Selain itu, sejak pertangahan abad ke-19, pengertian gutbürgerlich dalam B.Jerman ini kira-kira sama seperti istilah orang baik-baik dalam bahasa Melayu kemarin (bandingkan juga orangkaya).

Kata-kata Inggeris civil, civic, civilized, civilization itu semua berkaitan dengan kata Latin civitas yang merupakan asal kata Spanyol ciudad, Perancis cité, Inggeris city (pinjaman dari bhs Perancis) yang berarti “kota”.

Kalau begitu barangkali idealisasi dari Masyarakat Medinah di waktu Nabi Muhammad s.a.w. ya?

Saya pikir, hubungan antara pengertian “beradab, bersantun” dengan pengertian “kota” itu sangat umum, dan adanya kota yang bernama “kota” (Madinah) itu mungkin kebetulan. Ini lebih-lebih laga karena pada period “Klasik” atau Jaman Emasnya kebudayaan Islam/Arab, yaitu periode Kalifat, yang paling terkenal sebagai pusat-pusat kebudayaan yang halus dan tinggi itu malah kota-kota seperti Baghdad, Kordoba, dll., sedangkan Madinah kurang sering disebut.

Salam, Waruno



Date: Sun, 15 Aug 1999 19:14:57 +0100
To: bahtera@egroups.com
Subject: [BT] Re: Mayarakat Madani- versi Indoesia & ...II

Response from Rochayah Machali (Sun, 15 Aug 1999 16:54:37 +1000)

Istilah ‘resmi’nya memang baru, meskipun mungkin konsepnya tidak. Mula-mula istilah itu dimaksudkan sebagai pengganti istilah ‘masyarakat sipil’ yang merupakan padanan ‘civil society’ dalam bahasa Inggris. Dalam banyak konteks di era Orde Baru, istilah ‘masyarakat sipil’ seringkali dikontraskan dengan ABRI dalam konteks ABRI-Sipil (mungkin disengaja oleh pihak tertentu!!!). Maka, dicarilah padanan ‘civil society’ itu dengan paradigma makna yang agak berbeda, dan dipakailah ‘istilah baru’ – masyarakat madani.

…..
….. Ada juga yang menganggap ‘kegagalan’ PAN meraih suara signifikan dalam Pemilu kemarin sebagai tolok ukur yang membuktikan bahwa gerakan madani hanya ‘gerakan kota’. Mungkin PAN dianggap sebagai salah satu ‘stakeholder’ gerakan madani.


Saya pikir, kalau kita lihat dari segi sosiologi, pengertian “madani” dan “masjarakat madani” ini ikatannya dengan pengertian “kota” itu terutama disebabkan karena pengertian tersebut pertama itu berikatan erat dengan klas menengah, sedangkan klas menengah itu tipikalnya memang penghuni kota.

Tapi sebelum masuk soal sosiologi itu, masih ada satu salah kaprah linguistik yang mungkin perlu kita soroti lebih dulu, yaitu aposisi pengertian “civil society” dengan hegemoni ABRI dalam politik. Hal ini tampaknya terjadi karena terburu-buru menerjemahkan civil society dengan masyarakat sipil.

    BIng. civil Indonesianya “bersantun, madani”, sedangkan
    BInd. sipil* itu Inggerisnya “civilian”

Boleh jadi, salah kaprah itu tidak sepenuhnya kebetulan, karena munculnya pada saat orang di satu pihak agak sebal dengan kekuasaan militer yang dirasakannya berlebih-lebihan, di lain pihak masih kurang aman untuk menyatakan hal itu secara terbuka. Dengan mempertukarkan “bersantun/beradab” dengan “sipil”,* tersindirlah suatu penyamaan “militer” dengan “kurang beradab” yang tentu tak berani dinyatakan secara terbuka (apalagi waktu itu)? Bagaimana pun juga, waktu itu memang ada isu bahwa memenangkan “masyarakat madani” itu mau tak mau harus dengan menghadapi barisan-barisan militer.

Secara historis, lawan “masyarakat madani” itu “masyarakat feodal”, hal mana dihayati oleh perjuangan untuk memenangkan supremasi klas menengah, pengganti supremasi lapisan ningrat. Tetapi, mengingat asal usul lapisan ningrat, yaitu dari “pembagian tugas” sosial antara “pertahanan” (ningrat) dan “produksi/penggarapan tanah” (tani), maka ada kaitan hakiki antara pengertian “ningrat/bangsawan” dan pengertian “bersendjata/militer” (bandingkan “Ksatrya” dan “Waisya” dalam masyarakat Hindu).

Alhasil, “salah kaprah” tersebut diatas bukan satu kesalahan mutlak atau 100%, sebagaimana halnya juga tidak sepenuhnya kebetulan bahwa istilah civil dan civilian dalam B.Ing. itu akarnya sama 🙂

Kembali ke masalah sosiologi dan perwujudannya dalam perkembangan konkret di Indonesia: isu masyarakat madani itu satu isu klas menengah. Akibat langsung daripada pertumbuhan pesat ekonomi kawasan Pasifik, khusus juga di Indonesia, dalam dua dasawarsa menjelang “krismon”, maka klas menengah di Indonesia berkembang amat pesat. Dan inilah yang menimbulkan ketimpangan dalam struktur politik. Walaupun cara pemerintahan otoriter gaya Orde Baru kemarin itu turut memungkinkan pertumbuhan ekonomi itu, tetapi kemunculan kesadaran baru klas menengah ini merupakan penentang paling kuat dari segala bentuk pemerintahan otoriter.

Ciri-ciri khas daripada dampak politik klas menengah dimana-mana yalah menentang segala bentuk pemerintahan otoriter, cenderung mendahulukan kepentingan setempat/lokal/daerah dan kurang “hormat” kepada pemerintahan sentral/pusat. Jadi, pada penglihatan saya, pemerintahan Orde Baru gagal dan Pak Harto terpaksa lengser itu cuma sekadar karena tidak sempat menyesuaikan bentuk dan gaya pemerintahan dengan perubahan dalam struktur masyarakat, khususnya menonjolnya peran klas menengah. Tak kebetulan pula, munculnya isu “masyarakat madani” di Indonesia ini bertepatan dengan mulai unggulnya perlawanan klas menengah terhadap gaya pemerintahan otoriter Orde Baru.

Khusus mengenai hubungannya dengan kota dan prestasi PAN dalam pemilu. Struktur klas menengah Indonesia agak rumit, disebabkan oleh sejarahnya yang berabad-abad (sejak paling lambat abad ke-14) dan berliku-liku itu. Tradisi klas menengah yang paling lama di Indonesia ini dihayati dalam klas menengah pewaris kebudayaan Pesisiran. Dalam periode jajahan Belanda, dampak ekonominya tersisih dari bidang-bidang yang mula-mulanya dimonopoli oleh VOC, sehingga klas menengah tradisional Indonesian (Pesisiran) ini banyak juga bergerak didaerah pedesaan, artinya tidak sekadar terpusat pada kota.

Secara ilmiah umumnya sangat berbahaya untuk meletakkan tanda “samadengan” (=) antara lapisan masyarakat dengan organisasi masyarakat atau partai politik, jadi kalaupun ini dilakukan, perlu dicatat dulu bahwa penyamaan yang dimaksud itu hanya bersifat kasar-kasar, kira-kira, “garis besar”. Dalam hal ini pencerminan politik daripada klas menengah Indonesia yang tradisional Pesisiran tersebut diatas itu pada garisbesarnya dalam penglihatan saya dapat kita identifikasi dengan gerakan NU dan partai politik PKB. Mengingat besarnya andil pesisiran Jawa dalam tradisi klas menengah ini, tak mengherankan juga PKB banyak mendapat suara di Pulau Jawa, termasuk juga di luar kota.

Sejak banting-stir ekonomi politik Belanda dengan undang-undang agraria tahun 1870, timbul tuntutan baru terhadap infrastruktur, yang mana menyebabkan juga perubahan yang menyolok dalam politik persekolahan, sehingga timbul lapisan klas menengah terpelajar pribumi gaya baru, yang mulai nyata dampak sosialnya sejak awal abad ke-20 ini. Mengingat artipenting “sekolah raja” (kweekschool) di Fort de Kock / /Bukittinggi itu, maka banyak juga andil orang Batak dan Minangkabaunya. Orang Minangkabau itu berkelebihan dengan sudah adanya tradisi perniagaan pesisiran di Padang (karena setelah Malaka diduduki Portugis, pelayaran dagang Islam terpaksa mengubengi Sumatra liwat Barat (maka majulah Aceh, Padang, Bengkulu, Banten). Tak kebetulan, bagian klas menengah baru yang beragama Islam ini banyak orang Minangkabaunya (orang Batak banyak beragama Kristen). Pada penglihatan saya, PAN (dan juga Muhammadiah pada umumnya) banyak mencerminkan klas menengah baru ini (dalam pengertian “garis besar” tadi). Ini memang lebih berpusat di kota, ketimbang klas menengah tradisi pesisiran tersebut semula. Itulah mungkin sebabnya kenapa PAN banyak mendapat suara di kota-kota, dan terutama lagi di propinsi Sumatra Barat. Kalau tak salah, lumayan juga hasilnya di propinsi Riau, hal mana mungkin mencerminkan hubungan khusus Sultan di Deli dengan administrasi kolonial, mengingat artipenting Riau Daratan untuk onderneming Eropa dulu (terutama penanaman tembakau), dan pencerminan hal itu dalam persekolahan orang pribumi.

Satu tradisi klas menengah lain lagi yang berakar sejarah cukup mendalam juga (seperti tradisi klas menengah tersebut pertama tadi), yalah klas menengah Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan pelayaran Makassar dan Bugis yang tetap hidup selama periode penjajahan, dan sampai sekarang. Mereka sekarang punya kedudukan khusus karena akhir 1980-an pemerintahan Orde Baru membuka peluang khusus untuk kelompok ini dalam struktur ekonomi dan politik yang dikuasainya. Pada waktu itu sudah dirasakan perlunya ada pembukaan tertentu kepada klas menengah, hanya saja kurang konsisten dan terbatas pada saluran “KKN” yang dalam hal Sulawesi Selatan mungkin dilicinkan oleh adanya putra angkat Pak Harto yang asal dari sana? Pendekkata, dampak politik sektor klas menengah ini pada penglihatan saya banyak bergerak dalam ICMI, dan partai Golkar dan PPP. Artinya, ini bagian klas menengah yang tampaknya malah cenderung akur dengan status quo (atau sekurang-kurangnya menginginkan perubahan itu “dari dalam/atas”). Hasil pemilu pun kira-kira menunjuk pada kedudukan demikian.

Selain itu masih ada lagi yang lain-lain, seperti klas menengah Aceh (cukup besar juga, tapi dampak ke luar daerah tidak seperti tiga yang tersebut tadi), Banjar, Tidore, dll.

Satu hal yang menarik, sebagaimana halnya di Eropa dulu, kebangkitan klas menengah melawan feodalisme itu berwujudkan perjuangan agama Protestan (melawan Katolik), maka kebangkitan klas menengah Indonesia, baik pada abad ke-15 dan 16 melawan feodalism Majapahit, begitupun sekarang waktu menentang pemerintahan otoriter Orde Baru, bergerak dengan pegangan idiel agama juga, yaitu agama Islam. Yang menarik, kalau kita bandingkan apa yang diisukan antara Protestan dan Katolik pada abad ke-15 itu, dan antara Islam dan Hindu pada zaman Majapahit, kesejajarannya banyak sekali. Dari itu mungkin dapat dimengerti adanya kebangkitan kembali kesadaran Islam dalam masyarakat Indonesia sejak dasawarsa 1980-an, yang bertepatan dengan pertumbuhan klas menengah hasil kemajuan ekonomi itu.

Masalah “masyarakat madani” dan klas menengah ini memang sangat rumit dan banyak seluk-beluknya. Maafkanlah ini sampai panjang begini dan agak menyimpang dari soal murni bahasa…… (sudah dengan sendirinya tidak menggharuskan siapa-siapa untuk sependapat).

Salam hari Minggu, Waruno

Oleh: Rody Dermawan | 9 Februari 2008

Program Investasi Mandiri « Rodydermawan’s Weblog

STOP JADI BUDAK OWNER BISNIS ONLINE !!!

ingin mempunyai waktu luang untuk keluarga??? tidak lagi memikirkan waktu dan target kerja??

bergabung bersama kami di Investasi Mandiri!!! dengan modal yang terjangkau, dan pelaksanaan yang sangat mudah!!!  nikmati dana hibah dan amal dari yang kita sumbangkan. dengan membantu orang-orang di sekitar kita, maka akan berbalik kepada diri kita sendiri!!! mempunyai waktu luang dan penghasilan yang tidak terbayangkan!!!

klik sini untuk lebih jelas

Oleh: Rody Dermawan | 26 Januari 2008

crack password di log on windows xp

untuk ngebuka komputer yang dipassword, lu bisa klik sini, trus download crack xp trus, yang pengen windowsnya jadi genuine, juga bisa!!!! download WinGenuineFixHacksActivateAIO di sini!!!

lu punya cd windows, tapi serial numbernya ilang???? buat nyari cd key dari cd master, coba yang ini, didi_didi_didi

yang mau ngedownload, sabar tunggu beberapa detik, terus liat di sebelah kanan agak ke bawah ada dowload file, klik and langsung download ke kompie kamu

Older Posts »

Kategori